Jason Patrick Ranti, lahir pada 22 Oktober 1984. Dia adalah sulung dari tiga bersaudara. Musisi yang akrab disapa Jeje itu memulai karier sebagai gitaris sebuah band rock/blues rock bernama Stairway to Zinna. Bersama grup ini, Jeje melahirkan satu album bertajuk “Asisi,” pada 2012, dan album kompilasi berjudul “Karol’s Trip to Zinna,” pada 2013, bersama dua grup lain, yaitu Karol n’ Roll, dan Indische Party.

Seiring kesibukan masing-masing personel, Stairway to Zinna tak aktif lagi. Namun itu bukan berarti akhir perjalanan Jeje. Sebagai seorang yang tak bisa lepas dari musik, Jeje, terus menulis lagu dan “celoteh” yang kelak menjadi karya-karya dalam karier solonya.

Perjalanan Jeje menjadi seorang musisi solo tak lepas dari Dado Darmawan, drummer The Flowers dan Stairway to Zinna. Tangan dingin Dado yang menguasai tetek-bengek industri musik dan juga aktif di “belakang layar” turut ambil bagian dalam “kelahiran” Jeje sebagai musisi solo. Sejak awal karier solo Jeje hingga saat ini,  Dado menjadi manajer Jeje.

Jeje menikah dengan seorang dokter bernama Anastasia Carolina, pada 2017. Mereka dikaruniai seorang putra yang akrab disapa Koko. Foto Koko Ketika kecildiabadikan Jeje menjadi sampul album “Sekilas Info.”

Perjalanan Jason Ranti

Mundur ke belakang, saat Jeje berusia belasan tahun, dia memang tertarik dengan dunia sastra. Saat bersekolah di Kolese Gonzaga, Jakarta Selatan, Jeje cukup akut terpapar sastra. Dia pernah bercerita bahwa puisi WS Rendra yang berjudul “Nyanyian Angsa,” yang dibacakan guru sastra saat SMA, adalah salah satu puisi yang mengubah hidupanya. Di samping itu, Jeje punya kebiasaan membaca yang baik. Secara tidak langsung, hal-hal ini membentuk Jeje sebagai penulis lirik yang punya karakter unik.

Kecintaan Jeje terhadap musik, sastra, dan seni rupa, seperti sebuah kesatuan yang utuh. Dia memang tak hanya melahirkan karya musik saja. Jeje dikenal aktif menggambar (dalam berbagai medium dan cara), juga sering menulis sajak, yang entah akan dilagukan atau tidak.

Perkenalan Jeje terhadap musik sudah terjadi sejak dini. Awalnya Jeje belajar gitar klasik. Namun, perkenalannya dengan musik rock membuatnya mengubah haluan.

“SMP kelas 1 gue belajar gitar klasik, tetapi ternyata di tongkrongan enggak keren main gitar klasik. Yang keren main gitarnya Dewa, Green Day, Slank, Oasis, Blur. Sampai pada akhirnya ada tante gue yang DJ, dia punya banyak plat (piringan hitam) dan dia memperdengarkan Hey Joe dari Jimi Hendrix. Terus setelah itu gue kayak, “Dadah Noel!” ujar Jeje dalam artikel Jalan Pikir Jason Ranti.

Dalam beberapa kesempatan, Jeje juga mengungkapkan kecintaannya pada KLa Project, grup pop yang mulai eksis sejak era 1980-an.

Selepas SMA, Jeje melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Atma Jaya Jakarta, Jeje mengambil jurusan psikologi. Dalam artikel berjudul “Jalan Pikir Jason Ranti” yang dipublikasikan Medcom.id, Jeje mengungkapkan alasannya yang terdengar unik terkait keputusannya mengambil jurusan psikologi.

“Karena tetangga gue, keyboardist gue di Stairway to Zinna, kuliah psikologi. Habis SMA sebenarnya pengin masuk seni rupa, tapi enggak percaya diri karena merasa enggak berbakat di bidang seni visual. Bingung mau ambil jurusan apa, pokoknya selain ekonomi. Terus tetangga gue kuliah psikologi di Atma Jaya. Ya sudah gue ikut dia saja karena gue cocok main sama dia. Kebetulan gue juga enggak bisa bawa motor, dan tetangga gue itu bisa bawa motor. Jadi ya pas lah gue sekalian bisa nebeng ke kampus. Waktu itu juga pas SMA gue lagi suka melihat Salvador Dali. Kalau dipelajari itu berhubungan sama psikoanalisis,” jelas Jeje.

Selepas kuliah, Jeje sempat bekerja di sejumlah tempat. Mulai dari jadi pekerja di restoran, menjadi calon karyawan bank, hingga jadi guru privat. Semua dilakukan Jeje sembari menekuni dunia musik.

Jeje merilis album debut pada usia 33 tahun. Album bertajuk “Akibat Pergaulan Blues” itu diproduseri Junior Soemantri yang merupakan tetangga Jeje di Pamulang, Tangerang Selatan.

“Gue senggak sepintar itu, yang pintar mereka (tim manajemen). Kalau enggak ada mereka gue enggak tahu mau jadi apa. Album ini pun ada karena Junior Soemantri, kalau enggak dia gue enggak tahu ada album ini apa enggak. Dia (Junior Soemantri) tetangga gue, satu komplek. Tetapi sempat enggak ketemu lama, ketemu lagi di rumahnya Endah N’ Rhesa, dia menawarkan jadi produser gue. Gue enggak tahu sebenarnya produser itu ngapain. Terus dia pesan studio, dan ada beberapa adittional player dari dia, dia atur jadwal gue rekaman. Anjing, baik banget kan dia. Gue pikir produser itu yang bayarin rekaman, ternyata kagak! Ternyata gue yang bayar, fuck!” kata Jeje dalam artikel Jalan Pikir Jason Ranti.

Kancah folk dalam negeri tak pernah sesemarak saat kelahiran album debut Jeje, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Lirik yang nakal, kritis tanpa terdengar menggurui, estetis namun banal. Kira-kira itu yang menggambarkan isi “Akibat Pergaulan Blues.”

“Akibat Pergaulan Blues” adalah album yang menggambarkan pijakan Jeje dalam melihat sesuatu. Alih-alih terdengar slebor, album ini justru menunjukkan Jeje seorang musisi yang memiliki wawasan luas. Dari sastra, seni rupa, hingga politik. Meski terdengar “ngasal,” justru “Akibat Pergaulan Blues” menunjukkan bahwa Jeje adalah penulis lagu yang punya pola penulisan rapi. Jeje mampu mengkonstruksikan pikiran atau kritik dalam verbal yang terstruktur, tanpa terdengar sok tahu. Di balik itu, dia sangat menguasai konteks dari tiap-tiap persoalan yang “ditembak” dalam lagu-lagunya.

Sejumlah media memberikan apresiasi terhadap album “Akibat Pergaulan Blues.” Majalah Rolling Stone Indonesia, menempatkan album ini pada urutan ke-2 dalam daftar peringkat “Album Indonesia Terbaik 2017.” Portal berita Medcom.id menempatkan album ini dalam urutan teratas “10 Album Indonesia Terbaik 2017.” Tempo juga menempatkan album ini dalam tajuk “Album Pilihan” tahun 2017. Single “Bahaya Komunis” dari album ini juga masuk dalam daftar 10 Lagu Indonesia Terbaik 2017, yang dirilis oleh Warning Magz.

Pada 2019, Vice Indonesia merilis tajuk “Album Terbaik Indonesia Satu Dekade Terakhir,” dan album “Akibat Pergaulan Blues” berada pada urutan ke-enam.

Dua tahun berselang, Jeje merilis album kedua berjudul “Sekilas Info.” Album ini memuat sejumlah single yang sudah populer jauh sebelum album ini dirilis, antara lain “Kafir,” dan “Lagunya Begini, Nadanya Begitu.”

Pada album “Sekilas Info,” Jeje semakin liar dalam eksplorasi lirik. Permainan kata paradoksal, dan satire, masih ditemui di tiap track pada album “Sekilas Info.” Jika pada album pertama proses rekaman melibatkan produser, pada album kedua Jeje membuat proses produksi lebih sederhana. Rekaman dengan konsep “live” dibantu oleh Dado Darmawan sebagai teknisi rekam.

Proses rekaman album kedua pun tidak dilakukan di studio khusus. Jeje fleksibel dalam hal ini. Bahkan, Jeje sempat merekam lagu di kamar hotel Ketika tur.

Album kedua juga menunjukkan referensi sastra Jeje. “Lagunya Begini, Nadanya Begitu” yang terinspirasi karya Sapardi Djoko Damono, dan Agus Aryadi Payana. Track Serpihan Lendir Kobra, contohnya. Lagu itu terinspirasi dari novel “Merahnya Merah” karya Iwan Simatupang, dan puisi “Post Scriptum” karya Toety Heraty. Kemudian lagu “Tak Selamanya Blues itu Blues” terinspirasi dari karya Amiel Kamil.

Album “Sekilas Info,” juga melibatkan beberapa kolaborator. Antara lain Danilla yang turut menyumbangkan vokal pada lagu “Iman Cadangan,” dan Agustinus Panji Mardika mengisi trumpet.

Untuk urusan visual pada album, Jeje mengerjakan sendiri. Estetika visual Jeje seolah menjadi satu paket dengan karya musiknya.

“Sekilas Info” juga mendapat apresiasi yang baik dari sejumlah media. Kompas yang berkolaborasi dengan Billboard Indonesia merilis daftar “20 Album Terbaik 2019,” dalam daftar itu, “Sekilas Info” berada di urutan ke-12. Sedangkan media Warning Magz, menempatkan album ini pada urutan ke-dua, dalam daftar “Album Terbaik 2019.”

ditulis oleh Agustinus Shindu Alpito